• Sejarah dan Filosofi Tari Rudat Kampung Gelgel

    15 September 2015
    1694 Views
    banner112

    Kesenian rudat tidak bisa dipisahkan dari sejarah keberadaan muslim pertama di Bali sekitar abad ke 15 yakni muslim Kampung Gelgel. Keberadaan penduduk muslim di Desa Kampung Gelgel berawal dari 40 orang prajurit yang merupakan pengiring/tatadan  Raja Klungkung ketika pulang dari Jawa setelah menghadiri pertemuan raja-raja Nusantara. 40 orang prajurit yang dibawa dari Jawa tersebut semuanya beragama Islam. Sesuai dengan tugas sebagai seorang prajurit, mereka pun menjadi abdi Dalem yang bertugas melindungi raja. Mereka semua diberikan tempat tinggal di Desa Kampung Gelgel yang letaknya tidak jauh dari pusat kerajaan Gelgel ( Klungkung ).  Ini menandakan begitu dekatnya hubungan raja dengan 40 orang prajurit tersebut. Bahkan mereka sudah dianggap layaknya saudara, semeton selam.

    Seiring dengan perjalanan waktu, Kampung Gelgel mengalami perkembangan, baik dari segi jumlah maupun aktivitas. Mereka mengembangkan aktivitas di berbagai sektor seperti keagamaan, ekonomi, dan seni budaya. Salah satu seni budaya yang dikembangkan oleh para leluhur Kampung Gelgel yang merupakan titisan darah prajurit adalah Seni Rudat. Sejatinya, Seni Rudat menggambarkan barisan tentara / prajurit Islam menuju medan juang untuk membela kebenaran mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Barisan  Rudat tersebut terdiri dari  komandan,  pengawal / kepala baris,  pasukan,  solis / penyanyi,  dan penabuh. Seni Rudat merupakan harmonisasi seni gerak, seni suara, dan seni tabuh. Sarat dengan nilai-nilai yang memadukan nilai religius, nilai etika, nilai estetika, nilai patriotisme, nilai kebersamaan dan kerukunan

    Anggota Rudat tergabung dalam kelompok “Sekehe Rudat Kampung Gelgel” dari usia 17 tahun sampai 40 tahun. Dalam perjalanannya, kelompok ini berkembang anggota pemainnya sampai usia 50 tahun. Bahkan, Sekehe Rudat ini terbagi menjadi dua kelompok, Rudat Junior dan Rudat Senior. Dari tahun ke tahun jumlah anggotanya terus bertambah, yang semula puluhan orang, kini sudah mencapai ratusan orang.

    Keberadaan Rudat Kampung Gelgel sampai saat ini 80% adalah swadaya masyarakat dalam bentuk

    1. Sumbangan sukarela ( infaq dan shodaqoh )
    2. Dosan (denda) dari anggota Rudat yang berhalangan hadir pada saat latihan

    Selain swadaya masyarakat, keberadaan Rudat ini juga dibantu dari dana ADD yang dialokasikan untuk pengembangan kesenian tradisional yang ada di Kampung Gelgel.

     

    Continue Reading
  • Pementasan Rudat Kampung Gelgel Saat Penobatan Raja Klungkung Yang Dihadiri Utusan Raja Se-Nusantara

    9 August 2015
    1050 Views
    Untitled-1

    Pada prosesi itu, Tjokorda Gde Agung, salah seorang keturunan keluarga Puri Klungkung, dinobatkan sebagai raja dengan gelar “Ida Dalem Semaraputra”, sedangkan istrinya “Anak Agung Sayang Mas Parasari”.

    Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita itu diawali prosesi calon raja, Tjok Gde Agung SP bersama istrinya ditandu menuju gedong puri atau bangunan induk milik keturunan keluarga kerajaan itu.

    Kemudian sebelum menuju “merajan”, yakni tempat suci khusus keluarga, digelar ritual “bea kaon” (pembersihan diri).

    Setelah itu dilanjutkan prosesi “mejaye jaye” atau menghaturkan rangkaian sesajen yang disaksikan seluruh undangan dan keluarga puri se-Bali.

    Ketua Panitia Abiseka Ratu Raja Klungkung, Tjok Raka Putra menjelaskan, penobatan itu berkaitan dengan pelestarian budaya dan adat semata.

    Menurut dia, puri memiliki tugas bersama pemerintah untuk melestarikan budaya bagi kesejahteraan masyarakat Klungkung.

    Ketika ditanya tugas Raja Klungkung setelah menjalani ritual “abiseka”, Tjok Raka Putra kembali menegaskan raja berkewajiban melestarikan adat budaya dan agama. “Kesejahteraan masyarakat itu bukan fisik semata, tapi juga spiritual,” katanya.

    Ditambahkan bahwa pelantikan atau “abiseka ratu” kali ini merupakan momen yang sakral karena bertepatan dengan “umanis” (neptu legi) pada Hari Suci Tumpek Landep (10/10).

    Penobatan ratu itu semula direncanakan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Puputan Klungkung, namun karena suatu hal diundur, Minggu.

    Prosesi ritual abiseka ratu itu dihadiri oleh sekitar 11 utusan raja Nusantara yang tergabung dalam wadah FSKN (Forum Silahturahmi Keraton Nusantara).

    Mereka menjadi saksi penobatan Tjokorda Gde Agung SP sebagai Raja Klungkung dengan gelar “Ida Dalem Semaraputra”, setelah kepemimpinan “Ida Dewagung Geg”

    .Disamping itu, digelar berbagai tari tarian sakral seperti tari baris jangkang, topeng side karya, wayan gedogan, selonding serta seni rudat yang dibawakan oleh kelompok umat Islam kampung Gelgel.

    Sementara itu pakar sejarah Bali Drs AA Ngurah Wirawan dalam narasinya sebelum prosesi penobatan, mengatakan bahwa gelar raja di Bali pada awalnya diberikan oleh penjajah Belanda.

    Dikatakan bahwa sejak 1928 pemerintah kolonial Belanda memberikan anugerah kepada 10 raja di Bali, semata-mata untuk pelestarian budaya.

    “Khusus untuk Raja Klungkung, Belanda memberi gelar Ide I Dewa Agung,” ujarnya seraya menegaskan bawah semua itu semata pelestarian budaya dan adat bukan untuk mengembalikan bentuk feodalisme.

    Dicontohkan bagaimana raja dan ratu di Inggris maupun kesultanan di Malaysia yang sampai saat ini tetap eksis di mata rakyatnya.(*)

    Sumber : http://www.antarabali.com/print/7382/penobatan-raja-klungkung-dihadiri-utusan-se-nusantara

    Continue Reading