• Masjid Nurul Huda, Kampung Gelgel Masjid Tertua Di Bali

    9 August 2015
    2752 Views
    msj

    Bali selama ini dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya menganut Hindu. Tapi, tahukah Anda, jika Islam ternyata sudah lama hadir di provinsi tersebut. Ini dibuktikan dengan adanya Masjid Nurul Huda yang terletak di Kampung Muslim Gelgel, Klungkung, Bali.

    Dari Denpasar, perjalanan menuju masjid tertua di Pulau Dewata ini memakan waktu sekitar sejam. Masjid Nurul Huda berdiri megah di tengah-tengah perkampungan Gelgel yang berpenduduk 280 keluarga. Di halaman masjid, terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17 meter.

    Menurut Wahidullah, baru-baru ini, Masjid Nurul Huda berdiri pada akhir abad ke-13. Ketika itu, lanjut Ketua Takmir Masjid Nurul Huda ini, Bali dikuasai raja Kerajaan Gelgel yang bernama Ketut Dalem Klesir.

    Usai menghadiri pertemuan raja-raja nusantara di Majapahit pada akhir abad ke-13, Raja Gelgel kembali pulang ke Bali dengan dikawal 40 prajurit Majapahit. Setibanya di Klungkung, pengawal dari Kerajaan Majapahit yang sebagian sudah memeluk Islam kemudian menetap di Gelgel. Mereka lalu menyebarkan agama Islam tanpa paksaan atas seizin Raja Gelgel.

    Hingga kini, Masjid Nurul Huda tetap terawat dengan baik dan menjadi kebanggan warga. Sementara hubungan antara warga Muslim Kampung Gelgel dan masyarakat Hindu sekitarnya juga berjalan harmonis serta penuh toleransi

    Sumber : http://news.liputan6.com/read/348730/nurul-huda-masjid-tertua-di-bali

    Continue Reading
  • Pementasan Rudat Kampung Gelgel Saat Penobatan Raja Klungkung Yang Dihadiri Utusan Raja Se-Nusantara

    9 August 2015
    1050 Views
    Untitled-1

    Pada prosesi itu, Tjokorda Gde Agung, salah seorang keturunan keluarga Puri Klungkung, dinobatkan sebagai raja dengan gelar “Ida Dalem Semaraputra”, sedangkan istrinya “Anak Agung Sayang Mas Parasari”.

    Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita itu diawali prosesi calon raja, Tjok Gde Agung SP bersama istrinya ditandu menuju gedong puri atau bangunan induk milik keturunan keluarga kerajaan itu.

    Kemudian sebelum menuju “merajan”, yakni tempat suci khusus keluarga, digelar ritual “bea kaon” (pembersihan diri).

    Setelah itu dilanjutkan prosesi “mejaye jaye” atau menghaturkan rangkaian sesajen yang disaksikan seluruh undangan dan keluarga puri se-Bali.

    Ketua Panitia Abiseka Ratu Raja Klungkung, Tjok Raka Putra menjelaskan, penobatan itu berkaitan dengan pelestarian budaya dan adat semata.

    Menurut dia, puri memiliki tugas bersama pemerintah untuk melestarikan budaya bagi kesejahteraan masyarakat Klungkung.

    Ketika ditanya tugas Raja Klungkung setelah menjalani ritual “abiseka”, Tjok Raka Putra kembali menegaskan raja berkewajiban melestarikan adat budaya dan agama. “Kesejahteraan masyarakat itu bukan fisik semata, tapi juga spiritual,” katanya.

    Ditambahkan bahwa pelantikan atau “abiseka ratu” kali ini merupakan momen yang sakral karena bertepatan dengan “umanis” (neptu legi) pada Hari Suci Tumpek Landep (10/10).

    Penobatan ratu itu semula direncanakan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Puputan Klungkung, namun karena suatu hal diundur, Minggu.

    Prosesi ritual abiseka ratu itu dihadiri oleh sekitar 11 utusan raja Nusantara yang tergabung dalam wadah FSKN (Forum Silahturahmi Keraton Nusantara).

    Mereka menjadi saksi penobatan Tjokorda Gde Agung SP sebagai Raja Klungkung dengan gelar “Ida Dalem Semaraputra”, setelah kepemimpinan “Ida Dewagung Geg”

    .Disamping itu, digelar berbagai tari tarian sakral seperti tari baris jangkang, topeng side karya, wayan gedogan, selonding serta seni rudat yang dibawakan oleh kelompok umat Islam kampung Gelgel.

    Sementara itu pakar sejarah Bali Drs AA Ngurah Wirawan dalam narasinya sebelum prosesi penobatan, mengatakan bahwa gelar raja di Bali pada awalnya diberikan oleh penjajah Belanda.

    Dikatakan bahwa sejak 1928 pemerintah kolonial Belanda memberikan anugerah kepada 10 raja di Bali, semata-mata untuk pelestarian budaya.

    “Khusus untuk Raja Klungkung, Belanda memberi gelar Ide I Dewa Agung,” ujarnya seraya menegaskan bawah semua itu semata pelestarian budaya dan adat bukan untuk mengembalikan bentuk feodalisme.

    Dicontohkan bagaimana raja dan ratu di Inggris maupun kesultanan di Malaysia yang sampai saat ini tetap eksis di mata rakyatnya.(*)

    Sumber : http://www.antarabali.com/print/7382/penobatan-raja-klungkung-dihadiri-utusan-se-nusantara

    Continue Reading