• Mimbar masjid Nurul Huda Sebagai Salah Satu Benda Arkeologi Tertua di Bali

    30 September 2015
    1264 Views
    post-mimbar

    Diantara bagian bangunan masjid Nurul Huda  yang menarik perhatian  adalah mimbar masjid. Mimbar ini terbuat dari kayu jati dan dihias dengan ukiran motif daun-daun. Bentuk mimbar ini memiliki banyak persamaan dengan mimbar kuno masjid kuno di Jawa misalnya dengan mimbar kuno masjid Sendang Duwur dan Mantingan. Bentuk arsitektur Masjid Nurul Huda dan bentuk mimbarnya meniru gaya arsitektur masjid kuno di Jawa.

    Pada mimbar ini terdapat tulisan yang lengkap berbunyi sebagai berikut.trans

    Dari transkripsi ini, kita mengetahui pembuatan mimbar masjid Nurul Huda pada bulan Juli tahun 1280 Hijriah.(1863 A.D). Kapan didirikannya masjid tersebut tidak ada keterangan yang jelas, kemungkinan berdasarkan bentuk arsitekturnya sekitar Abad ke 18 M.

    CATATAN :

    1. Babad Dalem adalah sumber lokal yang memuat sedikit proses pengislaman pada waktu pemerintahan Dalem watu Renggong, Raja Gelgel II, belum diterbitkan (MS) ; naskahnya ada di Museum Bali.
    2. Sejarah masuknya Islam di beberapa kabupaten di Bali, diterbitkan oleh Fakultas Sastra Universitas Udayanan, Denpasar 1980, hl. 7
    Continue Reading
  • Sejarah dan Filosofi Tari Rudat Kampung Gelgel

    15 September 2015
    1694 Views
    banner112

    Kesenian rudat tidak bisa dipisahkan dari sejarah keberadaan muslim pertama di Bali sekitar abad ke 15 yakni muslim Kampung Gelgel. Keberadaan penduduk muslim di Desa Kampung Gelgel berawal dari 40 orang prajurit yang merupakan pengiring/tatadan  Raja Klungkung ketika pulang dari Jawa setelah menghadiri pertemuan raja-raja Nusantara. 40 orang prajurit yang dibawa dari Jawa tersebut semuanya beragama Islam. Sesuai dengan tugas sebagai seorang prajurit, mereka pun menjadi abdi Dalem yang bertugas melindungi raja. Mereka semua diberikan tempat tinggal di Desa Kampung Gelgel yang letaknya tidak jauh dari pusat kerajaan Gelgel ( Klungkung ).  Ini menandakan begitu dekatnya hubungan raja dengan 40 orang prajurit tersebut. Bahkan mereka sudah dianggap layaknya saudara, semeton selam.

    Seiring dengan perjalanan waktu, Kampung Gelgel mengalami perkembangan, baik dari segi jumlah maupun aktivitas. Mereka mengembangkan aktivitas di berbagai sektor seperti keagamaan, ekonomi, dan seni budaya. Salah satu seni budaya yang dikembangkan oleh para leluhur Kampung Gelgel yang merupakan titisan darah prajurit adalah Seni Rudat. Sejatinya, Seni Rudat menggambarkan barisan tentara / prajurit Islam menuju medan juang untuk membela kebenaran mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Barisan  Rudat tersebut terdiri dari  komandan,  pengawal / kepala baris,  pasukan,  solis / penyanyi,  dan penabuh. Seni Rudat merupakan harmonisasi seni gerak, seni suara, dan seni tabuh. Sarat dengan nilai-nilai yang memadukan nilai religius, nilai etika, nilai estetika, nilai patriotisme, nilai kebersamaan dan kerukunan

    Anggota Rudat tergabung dalam kelompok “Sekehe Rudat Kampung Gelgel” dari usia 17 tahun sampai 40 tahun. Dalam perjalanannya, kelompok ini berkembang anggota pemainnya sampai usia 50 tahun. Bahkan, Sekehe Rudat ini terbagi menjadi dua kelompok, Rudat Junior dan Rudat Senior. Dari tahun ke tahun jumlah anggotanya terus bertambah, yang semula puluhan orang, kini sudah mencapai ratusan orang.

    Keberadaan Rudat Kampung Gelgel sampai saat ini 80% adalah swadaya masyarakat dalam bentuk

    1. Sumbangan sukarela ( infaq dan shodaqoh )
    2. Dosan (denda) dari anggota Rudat yang berhalangan hadir pada saat latihan

    Selain swadaya masyarakat, keberadaan Rudat ini juga dibantu dari dana ADD yang dialokasikan untuk pengembangan kesenian tradisional yang ada di Kampung Gelgel.

     

    Continue Reading
  • Sejarah Berdirinya Kampung Islam Gelgel

    9 August 2015
    2381 Views
    Comments are off for this post
    sejarah

    Berita masuknya Islam di Bali dapat diketahui dari beberapa sumber,baik sumber-sumber lokal maupun asing. Dari cerita yang turun temurun diperoleh informasi bahwa orang-orang Islam pertama datang ke Gelgel (Pusat pemerintahan di Bali sejak abad ke XIV ) ialah sebagai pengiring Dalem (Raja) dari Majapahit.

    Sebagai pengiring  Mereka datang keBali sebanyak 40 orang. Kedatangan orang-orang tersebut terjadi pada masa pemerintahan Dalem  Ketut Ngelesir ,Raja Gelgel  ke I, sebab kunjungan ke Majapahit,hanya pernah dilakukan oleh Dalem Ketut Ngelesir dalam  jaman Gelgel.

    Dan orang-orang Islam yang  40 orang itu lebih bertindak selaku abdi Dalem pada saat itu,dan Mereka diberi tempat disebelah timur pusat pemerintahan Raja Gelgel,dan itu terjadi diperkirakan pada tahun 1462 M.

    Kemudian mereka mendirikan tempat tinggal dan tempat ibadah seadanya ,dengan bertiangkan batang pohon kelapa dan beratapkan alang-alang.Seiring dengan perjalanan waktu jumlah  Mereka turus bertambah banyak ,akhirnya mendirikan sebuah perkampungan yang sekarang dikenal dengan nama Desa Kampung Gelgel dan sebuah Masjid yang  bernama “Masjid Nurul Huda”.

    Sejak berdiri Masjid Nurul Huda dari zaman Kerajaan Gelgel   telah mengalami beberapa tahapan renovasi dan rehab,sampai akhirnya pada tahun 1989 M bertepatan dengan tahun 1409 H. Masjid Nurul Huda  Dibangun ulang dengan konstruksi beton lantai II,dan bagian atapnya masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan renovasi terakhir dilakukan pada Tahun 2010 M /Tahun 1431 H.

    Sejak awal berdiri semenjak kerajaan Gelgel ,Masjid ini bernama “Masjid Nurul Huda” yang berarti “cahaya petunjuk”sampai sekarang belum berganti nama,dan jenis tipologi masjid ini adalah “Masjid Bersejarah” meskipun bukti-bukti sejarah hampir tidak bisa dipertahankan karena termakan usia,namun diyakini Masjid inilah yang pertama kali dibangun di Bali seiring dengan masuknya Islam pertama ke Bali.

    Continue Reading
  • Masjid Nurul Huda, Kampung Gelgel Masjid Tertua Di Bali

    9 August 2015
    2752 Views
    msj

    Bali selama ini dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya menganut Hindu. Tapi, tahukah Anda, jika Islam ternyata sudah lama hadir di provinsi tersebut. Ini dibuktikan dengan adanya Masjid Nurul Huda yang terletak di Kampung Muslim Gelgel, Klungkung, Bali.

    Dari Denpasar, perjalanan menuju masjid tertua di Pulau Dewata ini memakan waktu sekitar sejam. Masjid Nurul Huda berdiri megah di tengah-tengah perkampungan Gelgel yang berpenduduk 280 keluarga. Di halaman masjid, terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17 meter.

    Menurut Wahidullah, baru-baru ini, Masjid Nurul Huda berdiri pada akhir abad ke-13. Ketika itu, lanjut Ketua Takmir Masjid Nurul Huda ini, Bali dikuasai raja Kerajaan Gelgel yang bernama Ketut Dalem Klesir.

    Usai menghadiri pertemuan raja-raja nusantara di Majapahit pada akhir abad ke-13, Raja Gelgel kembali pulang ke Bali dengan dikawal 40 prajurit Majapahit. Setibanya di Klungkung, pengawal dari Kerajaan Majapahit yang sebagian sudah memeluk Islam kemudian menetap di Gelgel. Mereka lalu menyebarkan agama Islam tanpa paksaan atas seizin Raja Gelgel.

    Hingga kini, Masjid Nurul Huda tetap terawat dengan baik dan menjadi kebanggan warga. Sementara hubungan antara warga Muslim Kampung Gelgel dan masyarakat Hindu sekitarnya juga berjalan harmonis serta penuh toleransi

    Sumber : http://news.liputan6.com/read/348730/nurul-huda-masjid-tertua-di-bali

    Continue Reading
  • Pementasan Rudat Kampung Gelgel Saat Penobatan Raja Klungkung Yang Dihadiri Utusan Raja Se-Nusantara

    9 August 2015
    1050 Views
    Untitled-1

    Pada prosesi itu, Tjokorda Gde Agung, salah seorang keturunan keluarga Puri Klungkung, dinobatkan sebagai raja dengan gelar “Ida Dalem Semaraputra”, sedangkan istrinya “Anak Agung Sayang Mas Parasari”.

    Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita itu diawali prosesi calon raja, Tjok Gde Agung SP bersama istrinya ditandu menuju gedong puri atau bangunan induk milik keturunan keluarga kerajaan itu.

    Kemudian sebelum menuju “merajan”, yakni tempat suci khusus keluarga, digelar ritual “bea kaon” (pembersihan diri).

    Setelah itu dilanjutkan prosesi “mejaye jaye” atau menghaturkan rangkaian sesajen yang disaksikan seluruh undangan dan keluarga puri se-Bali.

    Ketua Panitia Abiseka Ratu Raja Klungkung, Tjok Raka Putra menjelaskan, penobatan itu berkaitan dengan pelestarian budaya dan adat semata.

    Menurut dia, puri memiliki tugas bersama pemerintah untuk melestarikan budaya bagi kesejahteraan masyarakat Klungkung.

    Ketika ditanya tugas Raja Klungkung setelah menjalani ritual “abiseka”, Tjok Raka Putra kembali menegaskan raja berkewajiban melestarikan adat budaya dan agama. “Kesejahteraan masyarakat itu bukan fisik semata, tapi juga spiritual,” katanya.

    Ditambahkan bahwa pelantikan atau “abiseka ratu” kali ini merupakan momen yang sakral karena bertepatan dengan “umanis” (neptu legi) pada Hari Suci Tumpek Landep (10/10).

    Penobatan ratu itu semula direncanakan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Puputan Klungkung, namun karena suatu hal diundur, Minggu.

    Prosesi ritual abiseka ratu itu dihadiri oleh sekitar 11 utusan raja Nusantara yang tergabung dalam wadah FSKN (Forum Silahturahmi Keraton Nusantara).

    Mereka menjadi saksi penobatan Tjokorda Gde Agung SP sebagai Raja Klungkung dengan gelar “Ida Dalem Semaraputra”, setelah kepemimpinan “Ida Dewagung Geg”

    .Disamping itu, digelar berbagai tari tarian sakral seperti tari baris jangkang, topeng side karya, wayan gedogan, selonding serta seni rudat yang dibawakan oleh kelompok umat Islam kampung Gelgel.

    Sementara itu pakar sejarah Bali Drs AA Ngurah Wirawan dalam narasinya sebelum prosesi penobatan, mengatakan bahwa gelar raja di Bali pada awalnya diberikan oleh penjajah Belanda.

    Dikatakan bahwa sejak 1928 pemerintah kolonial Belanda memberikan anugerah kepada 10 raja di Bali, semata-mata untuk pelestarian budaya.

    “Khusus untuk Raja Klungkung, Belanda memberi gelar Ide I Dewa Agung,” ujarnya seraya menegaskan bawah semua itu semata pelestarian budaya dan adat bukan untuk mengembalikan bentuk feodalisme.

    Dicontohkan bagaimana raja dan ratu di Inggris maupun kesultanan di Malaysia yang sampai saat ini tetap eksis di mata rakyatnya.(*)

    Sumber : http://www.antarabali.com/print/7382/penobatan-raja-klungkung-dihadiri-utusan-se-nusantara

    Continue Reading